Selasa, 06 November 2012

Mahasiswa dan sikap hedonisme yang semakin membudaya


 Siapa itu mahasiswa yang sebenarnya ? suatu pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul dengan adanya dinamika yang terjadi dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang digambarkan sebagai sosok yang muda, berintelektual dan kritis seakan semakin luntur dari waktu ke waktu. Hal seperti ini terjadi karena adanya kegagalan pemahaman makna transisi status dari siswa ke mahasiswa serta didukung dengan adanya berbagai macam godaan dizaman yang serba pragmatis seperti saat ini. Kegagalan pemahaman makna transisi status itu terlihat dari sikap mahasiswa yang masih identik dengan sikap seorang siswa yang masih berada di dunia sekolah seperti egoisme, kegundahan khas remaja dimasa puberitas dan cita-cita yang tinggi tanpa didasari usaha nyata serta dilengkapi oleh godaan sikap hedonisme.

Mahasiswa saat ini seakan lupa siapa dirinya dan untuk apa mereka dikuliahkan. Kaum minoritas berintelektual ini sebenarnya merupakan tulang punggung pembangun bangsa dan negara menuju perubahan yang lebih baik. Sedikit kita melihat sejarah perubahan bangsa, dimana motor penggerak utamanya adalah mahasiswa seperti kemerdekaan Indonesia yang tidak lepas dari peranan kaum muda dan mahasiswa, peralihan orde lama ke orde baru dan yang terakhir adalah  reformasi 1998 yang meruntuhkan orde baru. Namun pola pikir semacam ini kadang tidak dipahami oleh seorang mahasiswa yang kadang menganggap pola pikir semacam ini sebagai pola pikir yang “Berat”. Negara sudah ada yang memikirkan, mengapa kita ikut berpikir tentang negara, begitulah gampangannya sedikit pola pikir yang ada saat ini.

Pola pikir yang semacam ini wajar adanya karena memang perubahan zaman yang luar biasa pada saat ini. Tidak dapat dipungkiri memang perjuangan mahasiswa dulu dan sekarang berbeda. Zaman dulu riil lawan yang harus dihadapi siapa seperti penjajah, penguasa orde lama atau penguasa orde baru. Zaman saat ini lawan yang dihadapi adalah hal yang abstrak, hedonisme dan apatisme. Paham-paham seperti ini semakin tumbuh berkembang dalam diri mahasiswa seiring dengan pencarian jati dirinya. Bahkan sampai dengan saat ini masih ada mahasiswa yang bingung tentang jati dirinya dan kebingungan dalam menentukan arah hidup selanjutnya. Mahasiswa yang kebingungan tersebutlah mayoritas banyak yang terjebak dalam pusaran hedonisme yang pasti berpusat pada hura-hura dan sifat kosumtif. Memenuhi kepuasaan pribadi seakan membudaya. Shopping, clubbing, narkoba, free sex mewarnai kehidupan mahasiswa saat ini.

Hal-hal semacam itulah yang identik dengan mahasiswa saat ini. Sebenarnya mencari kesenangan itu wajar saja asalkan jangan berlebihan. Batas kelebihan itu dapat dilihat dari batas kewajaran yang ada dimasyarakat. Memang kita sebagai mahasiswa terkadang jenuh dengan hal-hal yang terus dipenuhi dengan agenda akademik. Tapi kejenuhan semacam itu dapat disalurkan ke hal-hal yang lebih positif, contohnya ikut dalam organisasi sebagai ajang bersosialisasi. Organisasi juga dapat membentuk pola pikir kita menjadi lebih kritis dan progresif dalam bentuk menulis, membaca atau berdikusi. Relaksasi (pacaran, berkaroke, nonton dibioskop, jalan-jalan bersama teman) itupun juga perlu untuk menyegarkan pikiran agar tidak terlalu tertekan dan frustasi dengan kegiatan sehari-hari, hal itupun manusiawi karena memang setiap orang butuh sedikit intermezzo hiburan tapi tetap kembali ke awal tadi, seorang mahasiswa harus mengerti batas-batas kewajaran dalam mencari kesenangan hidup dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama.

Semua mahasiswa dari segala cabang keilmuan seharusnya sadar bahwa ia merupakan calon-calon pemimpin bangsa sebagai agent of change di masyarakat dan dapat resisten terhadap berbagai macam godaan hedonisme yang ada saat ini. Mahasiswa yang sadar pasti akan merasakan bahwa bangku kuliah yang dia enyam saat ini merupakan “The real education”, pendidikan yang penuh warna dan pertarungan pembentukan jati diri yang dinilai dengan intelektualitas cara berpikir.  Mahasiswa yang baik juga seharusnya mampu berpikir secara rasional-sistematis, tidak hanya berpikir spontan tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan nantinya atas tindakan yang diambil contohnya tawuran antar mahasiswa di Jakarta dan Makassar. Apakah hal yang seperti itu dapat dikatakan sebagai kaum intelektual muda calon pemimpin bangsa yang mengedepankan otot dari pada otak ??? memang ironis jika ditelaah ulang.

Kemudian ada sebuah realita yang saat ini membudaya dikalangan muda, Mahasiswa yang seharusnya up to date news atau isu-isu nasional saat inipun kadang terbalik malah hanya up to date status di Twitter atau Facebook. Hal seperti ini jika dipikir ulang memang aneh namun merupakan sebuah realita yang ada saat ini. Tapi penilaian penulis secara umum terhadap hal seperti ini wajar karena memang mahasiswa merupakan jiwa muda yang ingin selalu mengekspresikan hati, pikiran dan perasaannya melalui berbagai macam media. Dan tidak sepenuhnya dalam jejaring sosial tersebut semua bernilai negative ada juga hal positifnya. Ekspresi-ekspresi yang ditimbulkan tadi sebenarnya merupakan buah dari kekuatan yang dimiliki oleh setiap mahasiswa, antara lain kekuatan moral (moral force), kekuatan ide (power of idea), kekuatan nalar (power of reason) tapi kadang hal tersebut tidak diolah dan dikelola dengan baik sehingga kekuatan-kekuatan tersebut tidak berfungsi secara optimal bagi mahasiswa dalam usaha menggapai semua cita-citanya atau bahkan malah terjerumus ke hal yang negative karena kegagalan mengelola beberapa kekuatan yang dimilikinya.

Setiap mahasiswa pasti memiliki impian dan cita-cita untuk menggapai kesuksesan, namun saat ini hal itu tidak dibarengi dengan usaha keras. Bahkan saat ini mayoritas mahasiswa berpikir instan, ingin menjadi orang sukses namun tidak mau berusaha dan bekerja keras.  Padahal dalam sebuah forum Prof. Husein Haikal, MA (guru besar UNY) pernah berkata bahwa “Untuk menjadi orang hebat dan sukses itu usaha dan tantangannya luar biasa”. Tidak ada orang besar di negeri ini yang masa mudanya hanya dipenuhi oleh kegiatan hura-hura dan berfoya-foya, pasti pada masa mudanya dijalani dengan usaha keras. Berpikir, membaca, berdiskusi dan menulis merupakan kegiatan mereka sehari-hari. Jadi lebih baik kita mencontoh hal-hal tersebut dan bukan malah mencontoh berhura-hura dan berfoya-foya.

Beberapa hal yang dibahas diatas, saat ini merupakan deskripsi dari mahasiswa secara umum. Sebenarnya kita patut bersyukur dan bangga jika dapat menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa karena hanya sekitar 4,3 juta orang atau 5  % dari jumlah penduduk Indonesia yang bisa merasakan pendidikan tinggi. Rasa syukur itu dapat kita wujudkan dengan benar-benar menjadi seorang “MAHASISWA” dan bukan menjadi “mahasiswa angin-anginan” atau “mahasiswa abal-abal” yang hanya menumpang bertitel “MAHASISWA”, namun secara intelektualitas, pola pikir dan tindakan tidak menunjukan predikat sebagai seorang mahasiswa. Mari kita jalani “The real education” ini dengan baik dan sepenuh hati untuk menggapai impian dan kesuksesan yang kita idamkan dan pada akhirnya nanti mendapat prestisius dan sebuah pengakuan atas semua usaha yang kita lakukan saat ini.

  Saifullah,,Banda Aceh,Universitas Serambi Mekkah,Manajemen

Bekal Mahasiswa Muslim sebagai Aktivis Perubahan

DALAM pentas sejarah pernah tercatat sebuah adegan yang sangat memukaukan kita. Dalam waktu yang singkat, hanya dua puluh tiga tahun, ada seorang aktor yang mampu mengubah sebuah bangsa secara luar biasa.
Padahal, pada waktu itu, bangsa tersebut dalam suasana penuh dengan kegelapan, alur cerita berubah sejak kedatangan sang aktor perubahan. Cerita sebuah bangsa mengalami babak baru, alur cerita peradabannya menjadi baru, mulai dari ideologi, cara berpikir, tujuan, cita-cita, sikap ,sistem, dan generasi peradabannya.
Perubahan tersebut dilakukan tiada lain oleh seorang aktor yang mempunyai hukum, aturan dan prinsip yang langsung dititipkan Allah kepadanya. Ia adalah Rasulullah SAW, melalui aktivitas dakwah yang kontinyu, Nabi Muhammad SAW mengubah wajah bangsa Arab dari yang gelap menjadi terang benderang.
Mungkin Ibu RA Kartini pun terinspirasi dengan perjuangan Rasulullah, sehingga membuat karya Habis Gelap Terbitlah Terang, walaupun dalam konteks yang berbeda. Rasulullah SAW mengarahkan  umatnya untuk meninggalkan peradaban dan kebudayaan jahiliyah sampai ke akar-akarnya. Bangsa yang dahulunya mengkhianati Allah, kini menjadi bangsa yang menjaga amanah Allah.
Di sinilah mahasiswa Islam harus mampu menangkap pesan amanat kisah di atas, bahwa ada perubahan cita- cita yang besar membutuhkan manusia yang besar pula. Sebuah cita-cita yang luhur dan besar membutuhkan manusia-manusia yang sama besarnya denga cita-cita itu.
Real madrid menjadi juara La Liga, karena Madrid dalam setiap pertandingannya menampilkan permainan yang apik, sehingga menghasilkan kemenangan. Sebuah sistem yang baik, tidak akan berjalan dengan baik  kalau tidak ditunjang dengan sumber daya manusia yang sama baiknya.
Karena itu, ketika Islam diturunkan sebagai sistem tatanan kehidupan manusia yang paling universal, paling paripurna, ia telah melahirkan sebuah fenomena yang indah dan mengagumkan. Ini terjadi karena dua hal, konsep Islam sebagai cita-cita bangsa mempunyai nilai kebenaran dan kekuatan personal Nabi Muhammad sebagai pengemban amanah cita- cita tersebut sama baiknya.
Sayangnya, justru inilah masalah yang sebenarnya tengah kita hadapi. Mahasiswa disebut sebagai pelopor perubahan agent of social change    seolah terlelap nyenyak  dalam tidur panjangnya, cita-cita suci yang diamanahkan Allah tidak lagi diemban oleh orang-orang hebat, dakwah yang luhur ini tidak lagi diusung oleh para da’i yang luhur.
Akankah kita, dakwah kita, perjuangan kita, tergilas di tengah gelombang perdaban gara-gara kepribadian kita. Sudah barang tentu, hati kita akan menjawab tidak, lalu jika kita akan berperan sebagai pendakwah dan pelopor perubahan apa yang harus kita lakukan? Jawabnnya tiada lain adalah diri kita harus mempunyai bekal sebaik mungkin.
Ada tiga bekal yang wajib dimiliki mahasiswa Islam pelopor perubahan dan pendakwah. Ketiga bekal itu adalah:
Pertama, iman. Semua akan sepakat, imanlah yang menjadi bekal pertama dan utama dalam melakukan perubahan apa pun. Tanpa keimanan dan keyakinan semua yang kita perbuat akan sia-sia, dan tidak memilki nilai apa pun.
Abdul Hasan Ali Hasani Al Nadwi mengatakan, “Saat kejayaan adalah saat iman, dan saat keruntuhan adalah saat hilangnya iman, sebagaimana iman menciptakan keajaiban di alam jiwa, seperti itu juga ia menulis cerita keajaiban di alam kenyataan, gelora dalam jiwa pun menjelma menjadi prestasi-prestasi sejarah.”
Senada dengan perkataan Abdul Hasan, Imam Hasan Al Bana mengatakan, “Datangkan kepadaku dua belas ribu orang yang benar-benar beriman, agar kutundukkan pegunungan, kubelah samudra dan lautan, serta kubuka negeri-negeri bersama mereka.”
Keimananlah  yang menjadi motivasi manusia untuk melakukan perubahan, baik buruknya perbuatan manusia tergantung pada baik buruknya keimanan. Kondisi iman yang buruk akan menghasilkan perbuatan buruk, sedangkan kondisi iman yang baik akan menghasilkan perbuatan yang baik.
Kedua, akhlak. Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan tadi. Iman yang paling sempurna adalah yang paling luhur akhlaknya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS.Al Qalam : 4).
Sewaktu Nabi Muhammad kecil, beliau diberi gelar al amien, karena penduduk Mekkah pada waktu itu sangat mempercayai beliau. Ini menunjukan respon seseorang ,atau kelompok dilihat dari prilaku atau akhlak seseorang.
Bahkan S Covey berpendapat, di dalam bukunya Seven Habits, “Orang yang akan mendapatkan kesuksesan adalah dimana pada dirinya selalu menunjukkan lingkaran positifnya, sehingga membuat respon dari orang lain yang baik, sedangkan orang yang mendapatkan kegagalan adalah dimana pada dirinya selalu menunjukkan lingkaran negatifnya, sehingga membuat respon dari orang lain buruk.
Minimal seorang aktifis muslim dia membudayakan sikap jujur ,sikap amanah, sikap tablig dan sikap fathonah nya untuk dirinya terlebih dahulu (nafsiyah)
Ketiga, ilmu (wawasan). Ilmu yang menjadi kunci sukses terwujudnya suatu peradaban. Dengan ilmu pula, suatu bangsa akan mengalami kemajuan yang sangat dinamis.
Dr.yusuf Qardhawi mengatakan, ada enam bagian keilmuan yang harus dipahami dan dikuasai para aktifis dan pendakwah adalah 1) dirasah islamiyah, yaitu keilmuan tentang Islam meliputi Alqur’an, hadits, dan tafsir, 2) ilmu bahasa, 3) ilmu mantiq, 4) ilmu teknologi, 5) wawasan  sejarah dan 6)  wawasan  pemikiran Islam.
HR. Abu Syekh mengatakan, Rasul Bersabda bahwa Ilmu itu nyawanya Islam dan tiangnya iman.
Ketiga bekal tersebut akan menjadikan kita sebagai mahasiswa yang sejatinya pembawa sebuah perubahan (agent social of change) demi nama agama ,bangsa dan negara. Allah berfirman, siapa yang menolong agama Allah, dia akan di tolong Allah. []

Pemuda: Pelopor Perubahan Melalui Karya

“Berikan aku sepuluh orang tua, niscaya akan aku cabut Semeru dari uratnya. Berikan aku seorang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”
-Soekarno, dalam Pidato Sumpah Pemuda 1963.

Banyak kisah menceritakan bahwa pemuda merupakan bagian dari masyarakat yang  menelurkan banyak perubahan. Hal itu bukanlah omong kosong semata, karena fakta sejarahpun telah bicara melalui fakta-fakta empirisnya. Budi Utomo, B.M. Diah, Dr.Soetomo, dan sederet nama pemuda di masa lalu merupakan bagian dari pemuda yang telah menciptakan perubahan di zamannya.

Jika diibaratkan dengan sebuah bangunan, pemuda layaknya pilar dari sebuah bangsa yang menyangga kemuliaan dan kejayaannya. Apabila pilarnya kokoh, niscaya bangsa itu akan kokoh di tengah arus dinamika dunia. Namun sebaliknya, jika pilarnya rapuh dan usang digerogoti rayap, maka perlahan masa akan menggerus bangsa itu hingga raib tak tersisa.
Perubahan merupakan sebuah keniscayaan dalam dunia. Ia akan merubah sekelilingnya sejalan dengan arus yang ia ciptakan. Tak akan ada satupun hal yang terlewat atau tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah perubahan seperti apa yang akan mengarahkan kehidupan menjadi lebih baik? Jawabannya ada di tangan para pemudanya.

Hitam-putih perubahan sangatlah tergantung dari goresan-goresan tangan para pemuda yang menciptakannya. Menderivasi isi otaknya ke dalam karya-karya penuh makna sebagai amanah yang telah dicita-citakan oleh hakikat proklamsi kemerdekaan Indonesia.
Sayangnya, banyak pemuda yang kita lihat sekarang bukanlah bagian dari pilar-pilar yang kokoh itu. Bukan juga bagian dari penghasil goresan-goresan perubahan itu. Banyak pemuda yang justru bukannya bersatu, malah sebaliknya saling menjatuhkan sama lain. Mengumbar kejelekan yang lain, tanpa memikirkan retaknya diri sendiri yang ada di pelupuk mata. Masing-masing merasa lebih unggul dibandingkan yang lain. Tak ada kesatuan yang tersirat. Apakah itu yang diajarkan oleh pendahulu kita dalam meraih kemerdekaan bangsa? Saya rasa tidak. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang seharusnya dilakukan oleh para pemuda di era ini?

Kurang bijak rasanya jika kita langsung memulai pembicaraan mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh pemuda saat ini. Mari kita mulai dengan beberapa hal krusial terlebih dahulu! Hal-hal yang akan mengantarkan kita sebelum masuk ke bagian tersebut, karena lagi-lagi jika tidak begitu nantinya hal ini hanya akan berujung pada penilaian subjektif semata, walaupun hal itu bisa saja berubah menjadi sesuatu yang objektif apabila dapat diterima secara umum, namun akan tak dapat dicegah pula apabila ia kembali menjadi subjektif jika ditolak.

Bicara mengenai permasalahan bangsa, tidaklah mudah. Ia tidak akan selesai hanya dalam sekali duduk saja. Apalagi hanya dalam deretan kata-kata yang ada pada beberapa lembar kertas saja, seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Akan tetapi, membicarakannya bukanlah suatu kesalahan apabila nantinya hal ini dapat menjadi wacana yang mengantarkan langkah kita untuk melakukan perbaikan melalui perubahan yang tak akan pernah berhenti sebelum Sang Penguasa Alam menghentikannya. Setidaknya ini dapat menjadi bagian dari proses untuk mendaftar tugas-tugas besar yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama terhadap bangsa.
Sekelumit Permasalahan Bangsa: Tugas Besar di Masa Depan
 
Indonesia dikenal sebagai salah satu bangsa terbesar di dunia setelah China dan India. Akan tetapi rupanya di tengah kebesarannya itu, Indonesia belum dapat mengikuti barisan peringkat dari kedua negara tersebut dalam pembangunan. Kemiskinan yang direpresentasikan oleh banyaknya masalah kelaparan, kekurangan gizi, banyaknya kasus putus sekolah, dan sederet permasalahan sosial yang tak lagi menjadi rahasia umum dengan prevalensi yang tersebar hampir di sebagian besar wilayah di Indonesia, terutama Indonesia bagian tengah dan timur.

Walaupun belakangan, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa selama periode Maret 2008-Maret 2009, tingkat kemiskinan Indonesia relatif menurun namun hal tersebut belum dibarengi dengan peningkatan pemerataan pendapatan masyarakat.

Selain itu, banyak pula pemberitaan media dan hasil-hasil penelitian yang juga mengabarkan rendahnya minat baca masyarakat hingga Indonesia sangat dekat kaitannya dengan kebodohan. Padahal sebelumnya, menurut penilaian United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Indonesia telah menjadi model pemberantasan buta aksara di kawasan Asia. Sesuai dengan data terakhir tahun 2007, bahwa angka buta aksara di Indonesia turun sebesar kurang lebih 14 persen dari jumlah buta aksara sebesar 11,8 juta orang dan sekitar 7 juta di antaranya adalah perempuan. Namun, dibalik itu sesuai dengan temuan United Nations Development Program (UNDP) justru minat baca masyarakat kita berada di tingkat yang sangat rendah, yaitu urutan 96 di dunia bahkan sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Hal itupun kembali diperparah oleh fakta bahwa sekitar 250 ribu-350 ribu siswa kelas 1-3 sekolah dasar terancam putus sekolah.

Belum lagi Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan tingkat polusi dan korupsi tertinggi di dunia hingga ia tak lagi disegani oleh masyarakat global. Kerusakan hutan, eksploitasi besar-besaran terhadap hasil bumi, dan sejumlah kerusakan lainnya juga kian terjadi di hampir seluruh bagian nusantara. Sungguh ironis. Permasalahan-permasalahan itu justru ada di tengah masyarakat yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah di buminya. Negara dengan tingkat biodiversitas nomor dua setelah Brazil dan segudang prestasi lainnya. Lantas, mengapa itu semua dapat terjadi? Kemanakah generasi-generasi pembaharu, yaitu para pemuda Indonesia berada saat hal ini terjadi?

Gerakan Pemuda, Gerakan Intelektual, Dimanakah Seharusnya Ia?
 
Pemuda selalu identik dengan perubahan dan pergerakan. Namun, ada sekelompok kecil bagian pemuda yang merepresentasikan pemuda itu sendiri. Mereka bernama ‘mahasiswa’. Salah satu kelebihan mahasiswa ialah mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan intelektualitasnya sehingga sudah suatu keharusan apabila mereka menjadi garda terdepan untuk mengantarkan masyarakat mencapai keadilan dan kemakmuran layaknya cita-cita bersama bangsa Indonesia sejak proklamasi dahulu.

Akan tetapi, belakangan banyak publik yang sanksi terhadap mahasiswa. Mahasiswa saat ini dianggap tidak memiliki kemampuan dibandingkan dengan mahasiswa di era 60-an, bahkan anggapan bahwa pergerakan mahasiswa mulai tahun 90-an hanya berperan untuk menjatuhkan rezim seolah tak tergantikan hingga kini.

Setiap zaman pastinya akan menghadapi permasalahan yang berbeda, oleh karena itu tentunya berbeda pula 



solusi yang dilakukan. Maka, sungguh tidak mudah memang jika kita ingin meraih kegemilangan yang serupa dalam sejarah. Oleh karena itu, diperlukan kejelian dari kita untuk membaca permasalahan dan kebutuhan di setiap zaman. Disinilah peran intelektualitas mahasiswa diperlukan. Intelektualitas yang tidak hanya berhenti di bangku kuliah yang usai ketika waktu mengakhirinya, namun tetap berimplikasi pada alur kegiatan sosial lainnya.

Gerakan yang dilakukan oleh pemuda pun sebaiknya tidak hanya yang bersifat sporadis saja. Hanya memanfaatkan isu-isu ‘genit’, lantas setelah isunya ‘basi’ termakan oleh masa, maka tak ada lagi tindak lanjut terhadap hal itu. Sebuah gerakan yang bermakna ialah gerakan yang mengandung tindakan yang berlanjut hingga dapat tercipta sebuah perubahan dan pembangunan ke arah yang lebih baik sebagai poros visi dan misi. Lalu, bagaimana perubahan itu dapat tercipta? Jawabannya adalah melalui sebuah tindakan nyata berupa karya dan inovasi.

Karya dan inovasi merupakan bukti autentik dari produktivitas sebuah gerakan dan akan lebih bermakna ketika hal tersebut bersifat altruis. Hal itu pulalah yang membedakan apakah gerakan pemuda atau mahasiswa hanyalah sebuah ‘omong kosong’ atau bukan. Melihat betapa pentingnya menghasilkan sebuah karya, maka penting pulalah kesadaran untuk menambah atau memperluas wawasan dan sasana ilmu pengetahuan yang multidisiplin bagi seorang pemuda, baik dengan membaca, diskusi, bahkan melalui penelitian. Menjalin hubungan yang sinergis antara pemuda pun tidak kalah pentingnya, karena sejatinya tidak ada perubahan yang dapat dilakukan seorang diri tanpa adanya kerja sama yang kokoh dari para destinator perubahan tersebut. Satu kalimat terakhir,  jadilah seperti pohon pisang yang baru akan mati ketika ia telah meninggalkan tunas (karya) bagi generasi berikutnya.