DALAM pentas
sejarah pernah tercatat sebuah adegan yang sangat memukaukan kita. Dalam waktu
yang singkat, hanya dua puluh tiga tahun, ada seorang aktor yang mampu mengubah
sebuah bangsa secara luar biasa.
Padahal,
pada waktu itu, bangsa tersebut dalam suasana penuh dengan kegelapan, alur
cerita berubah sejak kedatangan sang aktor perubahan. Cerita sebuah bangsa
mengalami babak baru, alur cerita peradabannya menjadi baru, mulai dari
ideologi, cara berpikir, tujuan, cita-cita, sikap ,sistem, dan generasi
peradabannya.
Perubahan
tersebut dilakukan tiada lain oleh seorang aktor yang mempunyai hukum, aturan
dan prinsip yang langsung dititipkan Allah kepadanya. Ia adalah Rasulullah SAW,
melalui aktivitas dakwah yang kontinyu, Nabi Muhammad SAW mengubah wajah bangsa
Arab dari yang gelap menjadi terang benderang.
Mungkin
Ibu RA Kartini pun terinspirasi dengan perjuangan Rasulullah, sehingga membuat
karya Habis Gelap Terbitlah Terang, walaupun dalam konteks yang berbeda. Rasulullah
SAW mengarahkan umatnya untuk
meninggalkan peradaban dan kebudayaan jahiliyah sampai ke akar-akarnya. Bangsa
yang dahulunya mengkhianati Allah, kini menjadi bangsa yang menjaga amanah
Allah.
Di
sinilah mahasiswa Islam harus mampu menangkap pesan amanat kisah di atas, bahwa
ada perubahan cita- cita yang besar membutuhkan manusia yang besar pula. Sebuah
cita-cita yang luhur dan besar membutuhkan manusia-manusia yang sama besarnya
denga cita-cita itu.
Real
madrid menjadi juara La Liga, karena Madrid dalam setiap pertandingannya
menampilkan permainan yang apik, sehingga menghasilkan kemenangan. Sebuah
sistem yang baik, tidak akan berjalan dengan baik kalau tidak ditunjang dengan sumber daya manusia
yang sama baiknya.
Karena
itu, ketika Islam diturunkan sebagai sistem tatanan kehidupan manusia yang
paling universal, paling paripurna, ia telah melahirkan sebuah fenomena yang
indah dan mengagumkan. Ini terjadi karena dua hal, konsep Islam sebagai
cita-cita bangsa mempunyai nilai kebenaran dan kekuatan personal Nabi Muhammad
sebagai pengemban amanah cita- cita tersebut sama baiknya.
Sayangnya,
justru inilah masalah yang sebenarnya tengah kita hadapi. Mahasiswa disebut
sebagai pelopor perubahan agent of social
change seolah terlelap nyenyak dalam tidur panjangnya, cita-cita suci yang
diamanahkan Allah tidak lagi diemban oleh orang-orang hebat, dakwah yang luhur
ini tidak lagi diusung oleh para da’i yang luhur.
Akankah
kita, dakwah kita, perjuangan kita, tergilas di tengah gelombang perdaban
gara-gara kepribadian kita. Sudah barang tentu, hati kita akan menjawab tidak, lalu
jika kita akan berperan sebagai pendakwah dan pelopor perubahan apa yang harus
kita lakukan? Jawabnnya tiada lain adalah diri kita harus mempunyai bekal
sebaik mungkin.
Ada
tiga bekal yang wajib dimiliki mahasiswa Islam pelopor perubahan dan pendakwah.
Ketiga bekal itu adalah:
Pertama, iman. Semua akan sepakat, imanlah yang
menjadi bekal pertama dan utama dalam melakukan perubahan apa pun. Tanpa
keimanan dan keyakinan semua yang kita perbuat akan sia-sia, dan tidak memilki
nilai apa pun.
Abdul
Hasan Ali Hasani Al Nadwi mengatakan, “Saat kejayaan adalah saat iman, dan saat
keruntuhan adalah saat hilangnya iman, sebagaimana iman menciptakan keajaiban
di alam jiwa, seperti itu juga ia menulis cerita keajaiban di alam kenyataan, gelora
dalam jiwa pun menjelma menjadi prestasi-prestasi sejarah.”
Senada
dengan perkataan Abdul Hasan, Imam Hasan Al Bana mengatakan, “Datangkan
kepadaku dua belas ribu orang yang benar-benar beriman, agar kutundukkan
pegunungan, kubelah samudra dan lautan, serta kubuka negeri-negeri bersama
mereka.”
Keimananlah yang menjadi motivasi manusia untuk melakukan
perubahan, baik buruknya perbuatan manusia tergantung pada baik buruknya
keimanan. Kondisi iman yang buruk akan menghasilkan perbuatan buruk, sedangkan
kondisi iman yang baik akan menghasilkan perbuatan yang baik.
Kedua, akhlak. Ini merupakan konsekuensi
logis dari keimanan tadi. Iman yang paling sempurna adalah yang paling luhur
akhlaknya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti
yang agung (QS.Al Qalam : 4).
Sewaktu
Nabi Muhammad kecil, beliau diberi gelar al
amien, karena penduduk Mekkah pada waktu itu sangat mempercayai beliau. Ini
menunjukan respon seseorang ,atau kelompok dilihat dari prilaku atau akhlak
seseorang.
Bahkan
S Covey berpendapat, di dalam bukunya Seven
Habits, “Orang yang akan mendapatkan kesuksesan adalah dimana pada dirinya
selalu menunjukkan lingkaran positifnya, sehingga membuat respon dari orang
lain yang baik, sedangkan orang yang mendapatkan kegagalan adalah dimana pada
dirinya selalu menunjukkan lingkaran negatifnya, sehingga membuat respon dari
orang lain buruk.
Minimal
seorang aktifis muslim dia membudayakan sikap jujur ,sikap amanah, sikap tablig
dan sikap fathonah nya untuk dirinya terlebih dahulu (nafsiyah)
Ketiga, ilmu (wawasan). Ilmu yang menjadi
kunci sukses terwujudnya suatu peradaban. Dengan ilmu pula, suatu bangsa akan
mengalami kemajuan yang sangat dinamis.
Dr.yusuf
Qardhawi mengatakan, ada enam bagian keilmuan yang harus dipahami dan dikuasai
para aktifis dan pendakwah adalah 1) dirasah islamiyah, yaitu keilmuan tentang Islam
meliputi Alqur’an, hadits, dan tafsir, 2) ilmu bahasa, 3) ilmu mantiq, 4) ilmu
teknologi, 5) wawasan sejarah dan
6) wawasan pemikiran Islam.
HR.
Abu Syekh mengatakan, Rasul Bersabda bahwa Ilmu itu nyawanya Islam dan tiangnya
iman.
Ketiga
bekal tersebut akan menjadikan kita sebagai mahasiswa yang sejatinya pembawa
sebuah perubahan (agent social of change)
demi nama agama ,bangsa dan negara. Allah berfirman, siapa yang menolong agama
Allah, dia akan di tolong Allah. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar