Siapa itu mahasiswa yang sebenarnya ? suatu
pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul dengan adanya dinamika yang terjadi
dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang digambarkan sebagai sosok
yang muda, berintelektual dan kritis seakan semakin luntur dari waktu ke waktu.
Hal seperti ini terjadi karena adanya kegagalan pemahaman makna transisi status
dari siswa ke mahasiswa serta didukung dengan adanya berbagai macam godaan
dizaman yang serba pragmatis seperti saat ini. Kegagalan pemahaman makna
transisi status itu terlihat dari sikap mahasiswa yang masih identik dengan
sikap seorang siswa yang masih berada di dunia sekolah seperti egoisme,
kegundahan khas remaja dimasa puberitas dan cita-cita yang tinggi tanpa
didasari usaha nyata serta dilengkapi oleh godaan sikap hedonisme.
Mahasiswa saat ini seakan lupa
siapa dirinya dan untuk apa mereka dikuliahkan. Kaum minoritas berintelektual
ini sebenarnya merupakan tulang punggung pembangun bangsa dan negara menuju
perubahan yang lebih baik. Sedikit kita melihat sejarah perubahan bangsa,
dimana motor penggerak utamanya adalah mahasiswa seperti kemerdekaan Indonesia
yang tidak lepas dari peranan kaum muda dan mahasiswa, peralihan orde lama ke
orde baru dan yang terakhir adalah reformasi 1998 yang meruntuhkan orde
baru. Namun pola pikir semacam ini kadang tidak dipahami oleh seorang mahasiswa
yang kadang menganggap pola pikir semacam ini sebagai pola pikir yang “Berat”.
Negara sudah ada yang memikirkan, mengapa kita ikut berpikir tentang negara,
begitulah gampangannya sedikit pola pikir yang ada saat ini.
Pola pikir yang semacam ini
wajar adanya karena memang perubahan zaman yang luar biasa pada saat ini. Tidak
dapat dipungkiri memang perjuangan mahasiswa dulu dan sekarang berbeda. Zaman
dulu riil lawan yang harus dihadapi siapa seperti penjajah, penguasa orde lama
atau penguasa orde baru. Zaman saat ini lawan yang dihadapi adalah hal yang
abstrak, hedonisme dan apatisme. Paham-paham seperti ini semakin tumbuh
berkembang dalam diri mahasiswa seiring dengan pencarian jati dirinya. Bahkan
sampai dengan saat ini masih ada mahasiswa yang bingung tentang jati dirinya
dan kebingungan dalam menentukan arah hidup selanjutnya. Mahasiswa yang
kebingungan tersebutlah mayoritas banyak yang terjebak dalam pusaran hedonisme
yang pasti berpusat pada hura-hura dan sifat kosumtif. Memenuhi kepuasaan
pribadi seakan membudaya. Shopping, clubbing, narkoba, free sex
mewarnai kehidupan mahasiswa saat ini.
Hal-hal semacam itulah yang
identik dengan mahasiswa saat ini. Sebenarnya mencari kesenangan itu wajar saja
asalkan jangan berlebihan. Batas kelebihan itu dapat dilihat dari batas
kewajaran yang ada dimasyarakat. Memang kita sebagai mahasiswa terkadang jenuh
dengan hal-hal yang terus dipenuhi dengan agenda akademik. Tapi kejenuhan
semacam itu dapat disalurkan ke hal-hal yang lebih positif, contohnya ikut
dalam organisasi sebagai ajang bersosialisasi. Organisasi juga dapat membentuk
pola pikir kita menjadi lebih kritis dan progresif dalam bentuk menulis,
membaca atau berdikusi. Relaksasi (pacaran, berkaroke, nonton dibioskop,
jalan-jalan bersama teman) itupun juga perlu untuk menyegarkan pikiran agar
tidak terlalu tertekan dan frustasi dengan kegiatan sehari-hari, hal itupun
manusiawi karena memang setiap orang butuh sedikit intermezzo hiburan
tapi tetap kembali ke awal tadi, seorang mahasiswa harus mengerti batas-batas
kewajaran dalam mencari kesenangan hidup dan tetap berpegang teguh pada ajaran
agama.
Semua mahasiswa dari segala
cabang keilmuan seharusnya sadar bahwa ia merupakan calon-calon pemimpin bangsa
sebagai agent of change di masyarakat dan dapat resisten terhadap
berbagai macam godaan hedonisme yang ada saat ini. Mahasiswa yang sadar pasti
akan merasakan bahwa bangku kuliah yang dia enyam saat ini merupakan “The
real education”, pendidikan yang penuh warna dan pertarungan pembentukan
jati diri yang dinilai dengan intelektualitas cara berpikir. Mahasiswa
yang baik juga seharusnya mampu berpikir secara rasional-sistematis, tidak
hanya berpikir spontan tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan nantinya atas
tindakan yang diambil contohnya tawuran antar mahasiswa di Jakarta dan
Makassar. Apakah hal yang seperti itu dapat dikatakan sebagai kaum intelektual
muda calon pemimpin bangsa yang mengedepankan otot dari pada otak ??? memang
ironis jika ditelaah ulang.
Kemudian ada sebuah realita yang
saat ini membudaya dikalangan muda, Mahasiswa yang seharusnya up to date
news atau isu-isu nasional saat inipun kadang terbalik malah hanya up
to date status di Twitter atau Facebook. Hal seperti ini
jika dipikir ulang memang aneh namun merupakan sebuah realita yang ada saat
ini. Tapi penilaian penulis secara umum terhadap hal seperti ini wajar karena
memang mahasiswa merupakan jiwa muda yang ingin selalu mengekspresikan hati,
pikiran dan perasaannya melalui berbagai macam media. Dan tidak sepenuhnya
dalam jejaring sosial tersebut semua bernilai negative ada juga hal positifnya.
Ekspresi-ekspresi yang ditimbulkan tadi sebenarnya merupakan buah dari kekuatan
yang dimiliki oleh setiap mahasiswa, antara lain kekuatan moral (moral
force), kekuatan ide (power of idea), kekuatan nalar (power
of reason) tapi kadang hal tersebut tidak diolah dan dikelola dengan baik
sehingga kekuatan-kekuatan tersebut tidak berfungsi secara optimal bagi
mahasiswa dalam usaha menggapai semua cita-citanya atau bahkan malah terjerumus
ke hal yang negative karena kegagalan mengelola beberapa kekuatan yang dimilikinya.
Setiap mahasiswa pasti memiliki
impian dan cita-cita untuk menggapai kesuksesan, namun saat ini hal itu tidak
dibarengi dengan usaha keras. Bahkan saat ini mayoritas mahasiswa berpikir
instan, ingin menjadi orang sukses namun tidak mau berusaha dan bekerja
keras. Padahal dalam sebuah forum Prof. Husein Haikal, MA (guru besar
UNY) pernah berkata bahwa “Untuk menjadi orang hebat dan sukses itu usaha dan
tantangannya luar biasa”. Tidak ada orang besar di negeri ini yang masa mudanya
hanya dipenuhi oleh kegiatan hura-hura dan berfoya-foya, pasti pada masa
mudanya dijalani dengan usaha keras. Berpikir, membaca, berdiskusi dan menulis
merupakan kegiatan mereka sehari-hari. Jadi lebih baik kita mencontoh hal-hal
tersebut dan bukan malah mencontoh berhura-hura dan berfoya-foya.
Beberapa hal yang dibahas
diatas, saat ini merupakan deskripsi dari mahasiswa secara umum. Sebenarnya
kita patut bersyukur dan bangga jika dapat menyandang gelar sebagai seorang
mahasiswa karena hanya sekitar 4,3 juta orang atau 5 % dari jumlah
penduduk Indonesia yang bisa merasakan pendidikan tinggi. Rasa syukur itu dapat
kita wujudkan dengan benar-benar menjadi seorang “MAHASISWA” dan bukan menjadi
“mahasiswa angin-anginan” atau “mahasiswa abal-abal” yang
hanya menumpang bertitel “MAHASISWA”, namun secara intelektualitas, pola pikir
dan tindakan tidak menunjukan predikat sebagai seorang mahasiswa. Mari kita
jalani “The real education” ini dengan baik dan sepenuh hati untuk
menggapai impian dan kesuksesan yang kita idamkan dan pada akhirnya nanti
mendapat prestisius dan sebuah pengakuan atas semua usaha yang kita lakukan
saat ini.
Saifullah,,Banda Aceh,Universitas Serambi Mekkah,Manajemen

Tidak ada komentar:
Posting Komentar