Selasa, 06 November 2012

Pemuda: Pelopor Perubahan Melalui Karya

“Berikan aku sepuluh orang tua, niscaya akan aku cabut Semeru dari uratnya. Berikan aku seorang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”
-Soekarno, dalam Pidato Sumpah Pemuda 1963.

Banyak kisah menceritakan bahwa pemuda merupakan bagian dari masyarakat yang  menelurkan banyak perubahan. Hal itu bukanlah omong kosong semata, karena fakta sejarahpun telah bicara melalui fakta-fakta empirisnya. Budi Utomo, B.M. Diah, Dr.Soetomo, dan sederet nama pemuda di masa lalu merupakan bagian dari pemuda yang telah menciptakan perubahan di zamannya.

Jika diibaratkan dengan sebuah bangunan, pemuda layaknya pilar dari sebuah bangsa yang menyangga kemuliaan dan kejayaannya. Apabila pilarnya kokoh, niscaya bangsa itu akan kokoh di tengah arus dinamika dunia. Namun sebaliknya, jika pilarnya rapuh dan usang digerogoti rayap, maka perlahan masa akan menggerus bangsa itu hingga raib tak tersisa.
Perubahan merupakan sebuah keniscayaan dalam dunia. Ia akan merubah sekelilingnya sejalan dengan arus yang ia ciptakan. Tak akan ada satupun hal yang terlewat atau tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah perubahan seperti apa yang akan mengarahkan kehidupan menjadi lebih baik? Jawabannya ada di tangan para pemudanya.

Hitam-putih perubahan sangatlah tergantung dari goresan-goresan tangan para pemuda yang menciptakannya. Menderivasi isi otaknya ke dalam karya-karya penuh makna sebagai amanah yang telah dicita-citakan oleh hakikat proklamsi kemerdekaan Indonesia.
Sayangnya, banyak pemuda yang kita lihat sekarang bukanlah bagian dari pilar-pilar yang kokoh itu. Bukan juga bagian dari penghasil goresan-goresan perubahan itu. Banyak pemuda yang justru bukannya bersatu, malah sebaliknya saling menjatuhkan sama lain. Mengumbar kejelekan yang lain, tanpa memikirkan retaknya diri sendiri yang ada di pelupuk mata. Masing-masing merasa lebih unggul dibandingkan yang lain. Tak ada kesatuan yang tersirat. Apakah itu yang diajarkan oleh pendahulu kita dalam meraih kemerdekaan bangsa? Saya rasa tidak. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang seharusnya dilakukan oleh para pemuda di era ini?

Kurang bijak rasanya jika kita langsung memulai pembicaraan mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh pemuda saat ini. Mari kita mulai dengan beberapa hal krusial terlebih dahulu! Hal-hal yang akan mengantarkan kita sebelum masuk ke bagian tersebut, karena lagi-lagi jika tidak begitu nantinya hal ini hanya akan berujung pada penilaian subjektif semata, walaupun hal itu bisa saja berubah menjadi sesuatu yang objektif apabila dapat diterima secara umum, namun akan tak dapat dicegah pula apabila ia kembali menjadi subjektif jika ditolak.

Bicara mengenai permasalahan bangsa, tidaklah mudah. Ia tidak akan selesai hanya dalam sekali duduk saja. Apalagi hanya dalam deretan kata-kata yang ada pada beberapa lembar kertas saja, seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Akan tetapi, membicarakannya bukanlah suatu kesalahan apabila nantinya hal ini dapat menjadi wacana yang mengantarkan langkah kita untuk melakukan perbaikan melalui perubahan yang tak akan pernah berhenti sebelum Sang Penguasa Alam menghentikannya. Setidaknya ini dapat menjadi bagian dari proses untuk mendaftar tugas-tugas besar yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama terhadap bangsa.
Sekelumit Permasalahan Bangsa: Tugas Besar di Masa Depan
 
Indonesia dikenal sebagai salah satu bangsa terbesar di dunia setelah China dan India. Akan tetapi rupanya di tengah kebesarannya itu, Indonesia belum dapat mengikuti barisan peringkat dari kedua negara tersebut dalam pembangunan. Kemiskinan yang direpresentasikan oleh banyaknya masalah kelaparan, kekurangan gizi, banyaknya kasus putus sekolah, dan sederet permasalahan sosial yang tak lagi menjadi rahasia umum dengan prevalensi yang tersebar hampir di sebagian besar wilayah di Indonesia, terutama Indonesia bagian tengah dan timur.

Walaupun belakangan, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa selama periode Maret 2008-Maret 2009, tingkat kemiskinan Indonesia relatif menurun namun hal tersebut belum dibarengi dengan peningkatan pemerataan pendapatan masyarakat.

Selain itu, banyak pula pemberitaan media dan hasil-hasil penelitian yang juga mengabarkan rendahnya minat baca masyarakat hingga Indonesia sangat dekat kaitannya dengan kebodohan. Padahal sebelumnya, menurut penilaian United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Indonesia telah menjadi model pemberantasan buta aksara di kawasan Asia. Sesuai dengan data terakhir tahun 2007, bahwa angka buta aksara di Indonesia turun sebesar kurang lebih 14 persen dari jumlah buta aksara sebesar 11,8 juta orang dan sekitar 7 juta di antaranya adalah perempuan. Namun, dibalik itu sesuai dengan temuan United Nations Development Program (UNDP) justru minat baca masyarakat kita berada di tingkat yang sangat rendah, yaitu urutan 96 di dunia bahkan sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Hal itupun kembali diperparah oleh fakta bahwa sekitar 250 ribu-350 ribu siswa kelas 1-3 sekolah dasar terancam putus sekolah.

Belum lagi Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan tingkat polusi dan korupsi tertinggi di dunia hingga ia tak lagi disegani oleh masyarakat global. Kerusakan hutan, eksploitasi besar-besaran terhadap hasil bumi, dan sejumlah kerusakan lainnya juga kian terjadi di hampir seluruh bagian nusantara. Sungguh ironis. Permasalahan-permasalahan itu justru ada di tengah masyarakat yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah di buminya. Negara dengan tingkat biodiversitas nomor dua setelah Brazil dan segudang prestasi lainnya. Lantas, mengapa itu semua dapat terjadi? Kemanakah generasi-generasi pembaharu, yaitu para pemuda Indonesia berada saat hal ini terjadi?

Gerakan Pemuda, Gerakan Intelektual, Dimanakah Seharusnya Ia?
 
Pemuda selalu identik dengan perubahan dan pergerakan. Namun, ada sekelompok kecil bagian pemuda yang merepresentasikan pemuda itu sendiri. Mereka bernama ‘mahasiswa’. Salah satu kelebihan mahasiswa ialah mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan intelektualitasnya sehingga sudah suatu keharusan apabila mereka menjadi garda terdepan untuk mengantarkan masyarakat mencapai keadilan dan kemakmuran layaknya cita-cita bersama bangsa Indonesia sejak proklamasi dahulu.

Akan tetapi, belakangan banyak publik yang sanksi terhadap mahasiswa. Mahasiswa saat ini dianggap tidak memiliki kemampuan dibandingkan dengan mahasiswa di era 60-an, bahkan anggapan bahwa pergerakan mahasiswa mulai tahun 90-an hanya berperan untuk menjatuhkan rezim seolah tak tergantikan hingga kini.

Setiap zaman pastinya akan menghadapi permasalahan yang berbeda, oleh karena itu tentunya berbeda pula 



solusi yang dilakukan. Maka, sungguh tidak mudah memang jika kita ingin meraih kegemilangan yang serupa dalam sejarah. Oleh karena itu, diperlukan kejelian dari kita untuk membaca permasalahan dan kebutuhan di setiap zaman. Disinilah peran intelektualitas mahasiswa diperlukan. Intelektualitas yang tidak hanya berhenti di bangku kuliah yang usai ketika waktu mengakhirinya, namun tetap berimplikasi pada alur kegiatan sosial lainnya.

Gerakan yang dilakukan oleh pemuda pun sebaiknya tidak hanya yang bersifat sporadis saja. Hanya memanfaatkan isu-isu ‘genit’, lantas setelah isunya ‘basi’ termakan oleh masa, maka tak ada lagi tindak lanjut terhadap hal itu. Sebuah gerakan yang bermakna ialah gerakan yang mengandung tindakan yang berlanjut hingga dapat tercipta sebuah perubahan dan pembangunan ke arah yang lebih baik sebagai poros visi dan misi. Lalu, bagaimana perubahan itu dapat tercipta? Jawabannya adalah melalui sebuah tindakan nyata berupa karya dan inovasi.

Karya dan inovasi merupakan bukti autentik dari produktivitas sebuah gerakan dan akan lebih bermakna ketika hal tersebut bersifat altruis. Hal itu pulalah yang membedakan apakah gerakan pemuda atau mahasiswa hanyalah sebuah ‘omong kosong’ atau bukan. Melihat betapa pentingnya menghasilkan sebuah karya, maka penting pulalah kesadaran untuk menambah atau memperluas wawasan dan sasana ilmu pengetahuan yang multidisiplin bagi seorang pemuda, baik dengan membaca, diskusi, bahkan melalui penelitian. Menjalin hubungan yang sinergis antara pemuda pun tidak kalah pentingnya, karena sejatinya tidak ada perubahan yang dapat dilakukan seorang diri tanpa adanya kerja sama yang kokoh dari para destinator perubahan tersebut. Satu kalimat terakhir,  jadilah seperti pohon pisang yang baru akan mati ketika ia telah meninggalkan tunas (karya) bagi generasi berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar